| Laporan singkat bencana alam gerakan tanah di Kec.Cibal dan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Propinsi Nusa Tenggara Timur
1. Bencana alam gerakan tanah terjadi pada tanggal 3Maret 2007, di Desa Gapong, Kecamatan Cibal,Kabupaten Manggarai, Propinsi Nusa TenggaraTimur. Secara geografis terletak pada koordinat 120° 29′41.6868″ BT, -8° 27′ 29.3724″ LS.
2. Gerakan tanah tejadi di Kecamatan Cibal berupa longsoran. Longsoran terjadi pada lereng bukit di DesaGapong dan pada bagian tebing bukit disepanjang jalanutama yang merupakan jalan penghubung Ruteng – Reo. Sedangkan di Kec. Lambaleda Gerakan tanah terjadi diDesa Goreng Meni yang terletak di bawah lembah yang dikelilingi tebing. Longsoran yang terjadi di DesaGapong dengan tinggi tebing yang longsor 10 – 14 meter, lebar (mahkota longsoran) 30 meter, panjanglongsoran yang melanda rumah-rumah 150 meter, dengan arah N290E, lereng tebing yang longsor70. Volume material longsoran yang menimbun area permukiman diperkirakan 14000 m3. Sedangkan disepanjang jalan Ruteng – Reo terjadi pada tebing/lereng yang terdapat alur-alur sungai. Aliranalur sungai kecil (tekuk lembah) yang terhambat/terbendung oleh material longsoran danbatang-batang pohon. Karena akumulasi air yang berlebihan disertai jebolnya material longsoranmengakibatkan campuran air dan material longsoran dengan kekuatan tinggi kanan kiri alur sungai dan mengakibatkan gerakan tanah yang menutup badan jalan dan dibeberapa tempat badan jalan terputus.
3. Akibat gerakan tanah.
Di Kec. Cibal 44 orang meninggal dunia, 21 orang luka-luka, 6 rumah rusak berat, 500 orang mengungsi,Disepanjang jalan ini terdapat 5 titik longsor besar,14 longsor sedang dan 12 longsor kecil akibatnya ruas jalan Ruteng – Reo putus total sehingga supplai bahanbakar minyak dari Reo ke Ruteng terhenti dan terjadi kelangkaan. Kecamatan Lambaleda 19 orang meninggal, 9rumah rusak berat, 16 rumah tertimbun tanah longsor, 1100 orang mengungsi, jalur jalan putus total.
4. Kondisi daerah bencana :
Bentang alam sekitar Kecamatan Cibal berupa lereng perbukitan dengan kemiringan lereng antara 40 – 80°,dengan ketinggian tempat antara 500 -1250 meter diatas permukaan laut. Pada bagian lerengnya terdapat banyak alur sungai, sedangkan pada lembah sungaimengalir Sungai Wae Pesi, Wae Ratjang, dan Wae Rentjayang merupakan sungai utama di daerah ini.
Bentang alam di Kec. Lambaleda adalah Lembah yang dikelilingi perbukitan terjal – sangat terjal.
Material yang longsor berupa pasir tufan dan lempung tufan. Batuan dasar sekitar lokasi bencana berupa breksi andesit dengan tanah penutup umumnya berupa pasir tufan merah kecoklatan. Tanah pelapukan sangat tebal berkisar 2 -4 meter. Batuan-batuan di sekitarlokasi ini bersifatmudah lepas dan tidak kompak sehingga batuannya pecah-pecah dan mudah lepas.
Pada daerah sekitar lokasi bencana banyak dijumpai longsoran terutama pada lereng yang terdapat alur sungai.
Penggunaan lahan sekitar daerah bencana pada lereng bagian atas dan tengah berupa semak belukar, kebun campuran, setempat pemukiman dan pada bagian kakilereng adalah lembah sungai dengan vegetasi semak.
5. Penyebab gerakan tanah antara lain:
a. Curah hujan yang tinggi selama 6 hari sebelum dan saat kejadian.
b. Kemiringan lerengnya yang sangat terjal sehinggamaterial mudah bergerak.
c. Pemotongan lereng untuk pemukiman.
d. Tidak adanya drainase lereng.
e. Tidak adanya perkuatan pada lereng.
f. Sifat tanah dan batuan yang lunak dan mudah lepas.
g. Di desa Gapong terjadinya alih fungsi lahan dari
hutan ke perkebunan/ladang penduduk (pisang, jagung
dan sawah)
h. Tidak adanya vegetasi penutup yang berakar kuat dan dalam.
6. Mekanisme terjadinya gerakan tanah sebagai berikut:
Desa Gapong Kec. Cibal dan Desa Goreng Meni Kec. Lambaleda
Akibat curah hujan yang sangat tinggi selama enam hari sebelum kejadian gerakan tanah menyebabkan kandunganair dalam tanah meningkat, sehingga air tanah
mengumpul pada kontak antara tanah yang meresapkan air dan batuan yang kedap air. Kontak keduanya merupakanbidang lemah, tanah/batuan bagian menjadi jenuh air,
bobot masa tanah bertambah karena jenuh air, lereng menjadi tidak stabil dan bergerak mencari keseimbanganbaru, akibatnya terjadi gerakan tanah.
Pada Jalur Jalan Ruteng – Reo.
Aliran alur sungai kecil (tekuk lembah) yang terhambat/terbendung oleh material longsoran danbatang-batang pohon. Karena akumulasi air yang berlebihan disertai jebolnya material longsoranmengakibatkan campuran air dan material longsoran dengan kekuatan tinggi kanan kiri alur sungai danmengakibatkan gerakan tanah yang menutup badan jalan dan dibeberapa tempat badan jalan terputus.
Pada Jalur Ruteng – Labuan Bajo
Erosi sungai mengikis bagian bawah tebing terjal yang merupakan tumpuan dari bronjong, akibatnya bronjongdan sebagian ruas jalan turun.
7. Rekomendasi teknis penanggulangan.
Sehubungan dengan intensitas curah hujan daerah bencana yang masih tinggi maka direkomendasikansebagai berikut:
Permukiman yang ada di sepanjang tebing jalan Ruteng – Reo dan daerah yang longsor ini harus segera dikosongkan karena sudah tidak layak huni.
Material longsoran yang menimbun badan jalan dan alur sungai harus segera dibersihkan dan dilebarkan supaya tidak menghambat aliran alur sungai tersebut.
Dilarang membuat pemukiman baru dan pemotongan lereng pada dan di bawah tebing lereng yang terjal.
Timbunan material longsor yang menimbun Wae Naong dan anak sungainya Kec. Lambaleda yang membentuk seperti danau harus segera dibuka sehingga aliran airmenjadi lancer dan tidak menimbulkan ancaman banjir bandang.
Jangan beraktifitas di material longsoran karena curah hujan masih tinggi yang dapat memicu terjadinya longsoran baru maupun longsoran susulan, untuk sementara waktu penduduk yang ditinggal dilereng terjal harus diungsikan ke tempat yang aman karena curah hujan yang masih tinggi.
Harus diwaspadai daerah potensi banjir bandang:
Sungai Wae Pesi, Wae Ratjang, Wae Rentja, dan Wae Naong banyak material longsor yang masuk ke sungai ini. |